Seorang pemuda sopan bernama Pajiri tertangkap mencuri ayam dengan modus yang sangat lihai: menabur jagung, memanggil ayam dengan mantra Jawa "Nduuk, nduk, genduk, mreneo...", menirukan bunyi "Tek, tek, tek", lalu menyambar leher ayam dengan tangan kirinya — karena ia kidal — dan membungkamnya dengan karet gelang agar tidak bersuara.
Alih-alih langsung menghukum, Kafka dan aparatnya menjadikan Pajiri tontonan. Kentongan dipukul lima kali, warga dikumpulkan di halaman kelurahan seperti menonton sirkus. Pajiri dipaksa memperagakan ulang cara mencuri ayam dari awal sampai akhir di depan seluruh desa, disaksikan keponakannya sendiri yang malu bersembunyi di balik pohon pisang.
Di mata warga, adegan itu campur aduk antara kekaguman pada keterampilan dan kutukan pada kejahatan. Di mata Kafka, itu adalah panggung untuk menegaskan wibawa: hukuman diperberat, bukan karena keadilannya, tapi untuk mempertontonkan siapa yang berkuasa.
Secara keseluruhan, novel ini bukan sekadar cerita tentang kepala desa yang korup. Ini adalah alegori tentang kekuasaan yang teatrikal — di mana bangkai macan tutul bisa menjadi simbol kesaktian palsu, dan seorang maling ayam kecil harus menjadi aktor dalam peragaan senja demi menghibur dan menakut-nakuti warganya. Nama "Kafka" sendiri menjadi kunci: hidup di desa itu seperti dalam novel Franz Kafka, penuh aturan tak masuk akal yang harus dipatuhi tanpa boleh dipertanyakan.
INFORMASI PEMESANAN PRAPESAN
1. Melalui Marketplace Bashish Publishing (shopee)
2. Whats App : 082139616868
3. IG @bashishpublishing
FORMAT PEMESANAN
Nama, Judul, Jumlah Eks, Alamat Pemesan
Contoh: Rozi, KAFKA, Sang Kepala Desa, 5 Eks, Kelurahan Mimbaan, RT 01 RW 13, Panji, Situbondo
